Kita hidup dalam bayangan mitos "Ibu Sempurna," sebuah citra yang menuntut kesempurnaan dan ketiadaan cela. Namun, fokus kita hari ini adalah menghargai keikhlasan, bukan kesempurnaan. Ibu hebat yang sesungguhnya adalah ibu yang menemukan kekuatan dalam ketidaksempurnaan, yang tetap berjuang.
1. Mengubah Perspektif: Kelelahan Adalah Bukti Cinta
Mengejar
kesempurnaan hanya akan melahirkan parenting stress. Kita harus mengubah
tolok ukur kehebatan. Ibu pejuang yang nyata adalah ibu yang:
- Merasa lelah atau marah, tapi ia
bangkit lagi.
- Membuat kesalahan, lalu belajar
dan memperbaikinya.
Fokus kita harus pada proses dan ketahanan diri, bukan hasil tanpa cacat. Kelelahan yang dirasakan seorang ibu adalah bukti dari usaha maksimalnya dan patut diakui. Perjuangan ibu adalah tolok ukur kehebatannya.
2. Pengakuan Ilahi atas Kelelahan Ibu
Al-Qur'an secara langsung mengakui betapa besar
perjuangan ibu. Dalam QS. Luqman: 14, disebutkan bahwa ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan "lemah yang bertambah-tambah" (wahnan
'alaa wahnin).
Pesan kunci dari ayat ini adalah pengakuan bahwa
kelelahan fisik, emosi, dan mental (wahnan 'alaa wahnin) yang Anda
rasakan diakui langsung oleh Allah SWT. Rasa lelah Anda adalah bukti dari
pelaksanaan perintah-Nya dan bernilai pahala.
Pengakuan ini juga diperkuat oleh Hadis Nabi SAW, di mana Rasulullah SAW menjawab "Ibumu" (diulang tiga kali) ketika ditanya tentang orang yang paling berhak mendapatkan bakti, menguatkan besarnya pengorbanan ibu. Perjuangan ibu dalam merawat, mendidik, dan melindungi keluarga adalah Jihad yang berpahala besar.
3. Pelajaran dari Kisah Sayyidah Hajar
Kisah Sayyidah Hajar mengajarkan kita bahwa Allah menghargai usaha gigih dan ketulusan, meskipun usaha itu diwarnai panik dan kelelahan, bukan hanya hasil yang rapi dan sempurna. Ketika ditinggalkan di padang tandus dan putranya kehausan, Hajar tidak punya solusi sempurna. Ia berlari tujuh kali antara Safa dan Marwah dalam kepanikan. Karena usaha gigihnya itu, Allah memancarkan Air Zamzam, dan perjuangannya diabadikan dalam rukun Haji/Umrah
4. Penguatan Diri
Untuk mengatasi mitos kesempurnaan dan meningkatkan
ketahanan diri, fokuslah pada hal-hal berikut:
- Stop Membandingkan Diri: Ingat,
layar media sosial hanya menampilkan "highlight reel." Fokuslah
pada journey unik keluarga Anda.
- Menerapkan Batasan Realistis: Gunakan
prinsip "Good Enough Parenting." Prioritaskan ikatan
emosional di atas kerapihan sempurna. Istirahatlah tanpa rasa bersalah.
- Kekuatan Pengampunan Diri (Self-Forgiveness): Jangan takut membuat kesalahan. Jika Anda marah atau membuat
salah, segera minta maaf kepada anak. Maafkan diri sendiri; itu adalah
proses belajar dan pendewasaan.
- Cari dan Terima Dukungan: Meminta
bantuan bukan tanda kelemahan. Libatkan pasangan dan komunitas Anda.
- Hargai Perjuangan Kecil Harian: Akui setiap pencapaian, sekecil apapun itu.
Maka tetaplah bertahan wahai ibu, Ingatlah
pesan kunci ini: "Ibu hebat bukanlah yang tidak pernah jatuh, tetapi yang
selalu menemukan kekuatan untuk berdiri kembali demi dirinya, anak-anak dan
keluarganya".
Anda hebat karena Anda tetap berjuang, Anda tetap
mencoba, dan Anda tetap mencintai. Mari kita terus memperjuangkan kebaikan
keluarga dengan ikhlas dan ketahanan diri
Selamat Hari Ibu, SuperMom Sejati

Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Untuk diskusi silakan mengirim email ke lembagakajianperak@gmail.com | IG: lembagakajian.perak | FB: lembagakajianperak