Kartini

Mengubah Jeda Menjadi Lentera: Meretas Gelap Menjemput Cahaya. Suara derit pintu kayu jati yang ditutup rapat itu mungkin terdengar seperti vonis hukuman bagi kebanyakan gadis kecil. Hari itu, langkah lincah seorang gadis berusia dua belas tahun terpaksa terhenti di batas pendopo Kabupaten Jepara. Masa pingitan telah tiba. Aturan adat Jawa menetapkan bahwa ia tidak boleh lagi keluar rumah sampai ada seorang pria yang datang menjemputnya sebagai istri.

Gadis itu, Trinil, panggilan kesayangan Kartini karena geraknya yang lincah bak burung, duduk di kamarnya. Wajar jika ia marah. Wajar jika ia meratapi nasib dan membenci tradisi yang mengurungnya. Namun, di sinilah keajaiban seorang Kartini bermula.

Di tengah kesepian yang menyergap, Kartini menatap sekeliling kamarnya. Ia tidak melihat dinding-dinding itu sebagai penjara, melainkan sebagai sebuah kepompong.

"Jika ragaku tak bisa melangkah melewati tembok ini, maka pikiranku yang akan terbang melintasi samudra," batinnya.

Bermodalkan kemampuan bahasa Belanda yang ia pelajari di sekolah dasar, Kartini mulai membaca segala hal yang dikirimkan kakaknya, Sosrokartono. Mulai dari buku-buku sastra, majalah feminis dari Eropa, hingga surat kabar. Ruang pingitan yang sempit itu, dengan ajaib ia ubah menjadi perpustakaan tanpa batas. Keterasingannya justru memberinya sebuah karunia yang tak ternilai: waktu. Waktu yang seolah berhenti (jeda) itu ia ubah menjadi lentera yang menerangi pemikirannya. Ia belajar, merenung, dan merajut persahabatan dengan dunia luar melalui untaian kata di atas kertas.

Tahun berganti, ujian terhadap optimisme Kartini tidak berhenti sampai di situ. Ada suatu masa ketika asa untuk melanjutkan sekolah guru ke Batavia, atau bahkan ke Belanda, membumbung tinggi. Kartini telah berjuang meyakinkan banyak pihak. Namun, pada akhirnya, restu dari orang tua dan tekanan lingkungan tidak berpihak padanya. Mimpinya untuk duduk di bangku sekolah lanjutan harus dikubur dalam-dalam.

Mengubah Jeda Menjadi Lentera
Ibu Kartini foto dari google
Lagi-lagi, Kartini berdiri di persimpangan antara keputusasaan dan harapan. Apakah ia menyerah pada kegelapan? Tidak. Hatinya yang selalu dipenuhi prasangka baik (husnuzan) kembali bekerja. Ia percaya bahwa setiap pintu yang tertutup pasti menyembunyikan jendela yang terbuka.

Jika ia tidak bisa pergi ke sumber cahaya, maka ia yang harus menyalakan cahaya itu di tempat ia berpijak.

Kartini memandang ke halaman belakang rumah kabupaten. Ia melihat anak-anak perempuan pribumi yang nasibnya jauh lebih suram darinya; tidak mengenal huruf, terkurung dalam ketidaktahuan. Di situlah Kartini mengubah kekecewaannya menjadi sebuah tindakan nyata. Ia kumpulkan anak-anak perempuan itu. Di serambi belakang rumahnya yang teduh, ia ajarkan mereka membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Kegagalan bersekolah ke Eropa telah diubahnya menjadi nyala api pertama bagi pendidikan kaum perempuan di Jepara.

Puncak dari segala kepasrahan dan optimisme Kartini terjadi ketika ayahnya yang mulai menua memintanya menerima pinangan Bupati Rembang. Ini adalah hantaman keras bagi idealisme Kartini. Sang Bupati sudah memiliki istri-istri selir. Secara batin, Kartini sangat menentang praktik poligami dan sistem pernikahan feodal.

Namun, cinta dan prasangka baiknya kepada sang ayah mengalahkan ego pribadinya. Kartini tidak melihat pinangan ini sebagai akhir dari hidupnya, apalagi sebuah kekalahan. Ia memutar otak, mencari celah di tengah sempitnya pilihan.

Ia mempelajari sosok calon suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Ternyata, sang bupati adalah pria yang berpendidikan dan memiliki pikiran yang relatif terbuka. Kartini melihat secercah harapan. Ia pun mengajukan syarat pranikah yang sangat tidak lazim pada masa itu: ia mau menikah, asalkan suaminya mendukung penuh cita-citanya untuk membangun sekolah perempuan yang lebih besar, dan ia diizinkan mendobrak aturan tata krama feodal yang kaku di dalam rumah tangganya kelak.

Pernikahan yang awalnya terlihat seperti gerbang menuju belenggu, justru diubah Kartini menjadi alat tawar strategis. Sang suami menyetujui syarat tersebut. Di Rembang, lentera yang ia nyalakan semakin benderang.

Kartini mungkin hanya hidup singkat, 25 tahun saja di dunia ini. Namun, narasi hidupnya bukanlah tentang seorang perempuan yang menyerah pada nasib yang kelam. Kisahnya adalah tentang seorang jiwa mulia yang pandai meracik air mata menjadi harapan.

Ia mengajarkan kepada kita sebuah rahasia kehidupan yang paling berharga: Bahwa masalah, rintangan, dan jeda sepanjang apa pun tidak akan pernah bisa memenjarakan pikiran yang menolak untuk menyerah. Di tangan seorang yang optimis, setiap langkah di dalam kegelapan adalah awal dari perjalanan menuju cahaya.

Selamat Hari Kartini

Nurwidiana, SKM, MPH.

Ketua Lembaga Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Untuk diskusi silakan mengirim email ke lembagakajianperak@gmail.com | IG: lembagakajian.perak | FB: lembagakajianperak