Jejak Hajar dan Dialog Iman: Memaknai Pesan Keluarga dan Perempuan dalam Iduladha. Setiap kali gema takbir Iduladha berkumandang, ingatan umat Islam senantiasa ditarik mundur melintasi ribuan tahun, menuju sebuah padang pasir tandus di lembah Bakkah (Mekah). Di sana, tertulis sebuah kisah epik terbesar tentang cinta, kepatuhan, dan pengorbanan yang dijalani oleh sebuah keluarga kecil: Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Nabi Ismail AS.
Hajar : Rahim Keteguhan dan Simbol Tawakal
Jauh sebelum ujian penyembelihan
Nabi Ismail AS terjadi, pondasi keimanan keluarga ini telah diuji melalui sosok
Hajar. Bayangkan seorang ibu muda, baru saja melahirkan anak yang
dinanti-nantikan, lalu ditinggalkan oleh suaminya di lembah yang tak bertuan,
tanpa air dan tanpa pepohonan.
Dalam Shahih Bukhari
(Hadis No. 3364), Ibnu Abbas RA merekam momen perpisahan yang sangat menyentuh
ini. Hajar mengejar Ibrahim AS dan bertanya berulang kali,
...
فَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تَتْبَعُهُ فَتَقُولُ: يَا
إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ
فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَتَقُولُ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ
يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟
قَالَ: نَعَمْ. قَالَتْ: إِذًا
لاَ يُضَيِّعُنَا.
"Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi,
meninggalkan kami di lembah yang tidak ada kawan dan tidak ada sesuatu
pun?"
Ibrahim terdiam. Hingga akhirnya intuisi spiritual Hajar mengambil alih, "Apakah
Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?" Ketika Ibrahim menjawab, "Benar,"
keluarlah kalimat dari lisan seorang perempuan yang kelak mengubah sejarah
peradaban:
"Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Kalimat الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ "Tidak ada
manusia (teman) dan tidak ada sesuatu pun." Menunjukkan betapa berasnya
pengorbanan dan kepasrahan Hajar. Sedangkan kalimat Hajar di akhir pertanyaa
itu : إِذًا لاَ يُضَيِّعُنَا"Jika demikian, Allah tidak akan
menyia-nyiakan kami." Jawaban
ini merupakan puncak kepercayaan yang berbuah dari keimanan tingkat tinggi (tauhidul
fi’li seorang hamba pada tuhanNya).
Keteguhan Hajar bukanlah
kepasrahan yang buta. Ia adalah aksi nyata. Ritual Sa'i—berlari-lari
kecil antara bukit Shafa dan Marwah—yang diwajibkan bagi jutaan jemaah haji
hingga saat ini dan nanti, sejatinya adalah napak tilas perjuangan seorang ibu.
Allah SWT mengabadikan keringat dan air mata seorang perempuan sebagai salah
satu rukun ibadah paling suci dalam Islam. Dari rahim kepasrahan dan perjuangan
Hajar-lah, mata air Zamzam memancar, menghidupkan sebuah kota suci yang menjadi
kiblat jutaan Ummat Islam.
Dialog Cinta Ayah dan Anak
Ketika Ismail AS tumbuh
remaja—usia di mana seorang anak sedang sangat disayangi oleh ayahnya—ujian
kedua tiba. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengurbankan putra
kesayangannya. Di sinilah Al-Qur'an merekam sebuah pendekatan tarbiyah
(pendidikan) keluarga yang sangat luar biasa.
Nabi Ibrahim AS tidak datang
sebagai figur ayah otoriter yang memaksa kehendaknya. Alih-alih langsung
mengeksekusi perintah tersebut, Ibrahim membuka sebuah ruang dialog yang
demokratis dan penuh kelembutan. Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saffat ayat
102:
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ
أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ
سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
"Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai
anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.'"
(QS. As-Saffat [37]: 102)
Panggilan "Yaa
Bunayya" (Wahai anakku sayang) mencerminkan kasih sayang yang
mendalam. Nabi Ibrahim memposisikan putranya Ismail sebagai partner ketaatan
dalam kehambaan. Dan jawaban Ismail, "Yaa Abati" (Wahai ayahku
sayang), menunjukkan kematangan jiwa seorang anak yang terdidik dengan keimanan
mendalam.
Ketaatan Nabi Ismail AS meski
masih sangat muda, tidak turun dari langit secara tiba-tiba. Karakter Nabi Ismail
AS yang luar biasa ini adalah buah dari pengasuhan tunggal ( single
parenting) yang hebat dari ibundanya, Hajar. Ibunyalah yang menanamkan
benih tauhid di dada Ismail selama ayahnya, Nabi Ibrahim berada di Syam.
Kesabaran Nabi Ismail di ujung pisau ayahnya adalah refleksi dari puncak
kesabaran Hajar saat berlari di tengah terik matahari antara Shafa dan Marwah.
Ibrah untuk Keluarga Masa Kini
Momen Idul Adha mengundang kita
untuk merefleksikan kembali relasi di dalam rumah tangga kita. Ada beberapa
pesan penting yang bisa kita petik:
- Perempuan
adalah Pilar Peradaban: Kisah Hajar mengajarkan bahwa perempuan tidaklah
berada dalam posisi sekunder dalam keluarga Islam. Keimanan yang kuat, ketangguhan
mental, spiritual, dan fisik seorang ibu adalah kunci utama keselamatan
dan masa depan anak-anaknya.
- Cinta
yang Proporsional dan pada batasnya. Cinta kepada pasangan dan
anak tidak boleh mengalahkan cinta dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Ibrahim, Hajar, dan Ismail membuktikan bahwa melepaskan apa yang paling
kita cintai karena Allah, tidak akan membawa kehancuran, melainkan
kemuliaan.
- Komunikasi
yang Penuh Rahmah:
Keluarga yang kuat dibangun melalui komunikasi yang jujur, lemah lembut,
dan saling menghargai pendapat, sebagaimana dicontohkan Ibrahim saat
berdialog dengan Ismail.
Iduladha bukan sekadar memotong
nadi hewan kurban, melainkan memotong ego, keangkuhan, dan cinta duniawi yang
berlebihan dalam diri kita. Semoga kita mampu meneladani ketangguhan Hajar,
keikhlasan Ibrahim, dan kesabaran Ismail dalam membangun madrasah keluarga kita
masing-masing. Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Maryam Qonitat, Ph.D
Lecturer di Universitas Islam Internasional Indonesia

Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Untuk diskusi silakan mengirim email ke lembagakajianperak@gmail.com | IG: lembagakajian.perak | FB: lembagakajianperak