Refleksi Perjalanan Pendidikan di Indonesia: Antara Sistem, Keluarga, dan Jiwa Anak. Pendidikan di Indonesia adalah perjalanan panjang tentang harapan. Sejak kemerdekaan, bangsa ini menempatkan sekolah sebagai jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan, memperluas kesempatan hidup, dan membangun peradaban. Dari ruang kelas sederhana di desa-desa hingga sekolah modern di kota besar, pendidikan selalu menjadi janji bangsa untuk masa depan.
Dalam banyak hal, Indonesia telah bergerak maju. Akses pendidikan meningkat, angka partisipasi sekolah membaik, dan kesempatan belajar semakin luas. Namun, refleksi yang jujur mengajak kita menyadari bahwa perjalanan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya sekolah atau jumlah siswa yang hadir di kelas. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah anak-anak benar-benar belajar, bertumbuh, dan merasa bahagia secara batin?Di sinilah pendidikan perlu dilihat secara
utuh: bukan hanya soal sistem sekolah, tetapi juga tentang keluarga dan kondisi
psikologis anak.
Akses Bertumbuh, Kualitas Masih Berjuang
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Indonesia
mengalami kemajuan dalam perluasan akses pendidikan, namun kualitas
pembelajaran masih menjadi tantangan serius. Kawuryan et al. (2021) menjelaskan
bahwa pemerataan akses meningkat, tetapi mutu belajar masih rendah dan timpang
antarwilayah. Dharmawan & Suryadarma (2022) juga menemukan adanya
kesenjangan besar antarkabupaten dalam hasil belajar.
Gambaran tersebut juga tercermin dalam
Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh
OECD. Pada PISA 2018, Indonesia memperoleh skor membaca 371, matematika 379,
dan sains 396, berada di kelompok bawah dari negara-negara peserta (OECD,
2019). Pada PISA 2022, Indonesia memperoleh skor membaca 359, matematika 366,
dan sains 383, masih berada di bawah rata-rata OECD meskipun menunjukkan beberapa
dinamika pascapandemi (OECD, 2023).
Data ini penting dibaca bukan sebagai label
kegagalan, tetapi sebagai cermin untuk memperbaiki kualitas belajar. Rendahnya
capaian belajar bukan berarti anak Indonesia kurang cerdas. Sering kali
persoalannya adalah kesempatan belajar yang belum setara, kualitas pengajaran
yang belum merata, dan lingkungan tumbuh yang belum cukup mendukung.
Learning Crisis:
Lama Sekolah Tidak Selalu Sejalan dengan Mutu Belajar
Beatty et al. (2021) menemukan fenomena learning
crisis di Indonesia. Dalam rentang 2000–2014, capaian numerasi siswa
mengalami penurunan. Bahkan siswa kelas 7 tahun 2014 diperkirakan setara dengan
kemampuan rata-rata siswa kelas 4 pada tahun 2000.
Temuan ini mengingatkan kita bahwa hadir di
sekolah saja belum cukup. Pendidikan bukan sekadar durasi berada di ruang
kelas, tetapi kualitas pengalaman belajar yang dialami anak. Seorang anak bisa
bersekolah bertahun-tahun, namun jika ia belajar dalam tekanan, sering merasa
gagal, atau tidak pernah benar-benar dipahami, maka sekolah kehilangan makna
terdalamnya.
Ketimpangan yang Masih Nyata
Indonesia adalah negara besar dengan ribuan
pulau, sehingga tantangan pendidikan juga sangat kompleks. Di sebagian wilayah,
sekolah telah menggunakan teknologi digital dan sumber belajar lengkap. Namun,
di wilayah lain, masih ada keterbatasan guru, infrastruktur, dan akses
internet.
Rahman et al. (2024) menunjukkan bahwa
ketimpangan fasilitas, kualitas guru, dan teknologi masih menjadi hambatan
besar, terutama di daerah terpencil. Maka keadilan pendidikan bukan hanya soal
semua anak masuk sekolah, tetapi semua anak mendapatkan mutu pendidikan yang
layak—di mana pun mereka lahir.
Belajar dari Negara Lain, Tanpa Kehilangan Jati Diri
Negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, Korea
Selatan, dan beberapa negara Asia Timur menunjukkan capaian pendidikan yang
sangat tinggi. Dalam PISA 2022, Singapura menempati posisi teratas dunia pada
banyak indikator, sementara Taiwan, Jepang dan Korea Selatan juga berada di
kelompok atas (OECD, 2023).
Negara-negara tersebut menekankan kualitas
guru, konsistensi kebijakan, budaya disiplin belajar, serta sistem evaluasi
yang kuat (Gill & Berezina, 2020; Mariam et al., 2025). Namun, Indonesia
tidak harus meniru sepenuhnya. Kita memiliki kekuatan sendiri: gotong royong,
keberagaman budaya, daya lenting sosial, serta nilai kekeluargaan yang kuat. Pendidikan
Indonesia perlu tumbuh dengan jati dirinya sendiri: maju secara zaman, namun
tetap hangat, membumi, dan berakar pada nilai bangsa.
Guru: Jantung Pendidikan
Tidak ada sistem pendidikan yang lebih baik
daripada kualitas gurunya. Berbagai literatur menegaskan bahwa guru merupakan
faktor penentu dalam peningkatan mutu pendidikan.
Namun, tantangan masih nyata: sebagian guru
belum memperoleh pelatihan yang bermakna, sistem pengembangan profesional belum
konsisten, dan beban administratif sering mengurangi fokus pada pembelajaran
(Kawuryan et al., 2021). Guru perlu
dipandang bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi sebagai profesional yang
terus bertumbuh. Mereka membutuhkan pelatihan berkelanjutan, kesejahteraan yang
layak, komunitas belajar, ruang berinovasi, serta penghargaan sosial yang
nyata.
Karena sering kali masa depan seorang anak
berubah hanya karena satu guru percaya padanya.
Orangtua: Sekolah Pertama yang Paling Menentukan
Jika guru adalah jantung sekolah, maka orang
tua adalah akar pendidikan.
Penelitian Fute et al. (2024) menunjukkan bahwa
gaya pengasuhan yang hangat, suportif, dan menerima secara emosional berkaitan
positif dengan prestasi akademik remaja. Sebaliknya, pengasuhan yang penuh
kritik atau terlalu mengontrol justru menurunkan keterlibatan belajar.
Keterlibatan orang tua—mendampingi belajar di
rumah, berdiskusi tentang sekolah, hadir dalam kegiatan pendidikan—berhubungan
positif dengan capaian akademik anak. Artinya,
anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang kaya atau sangat pintar. Mereka
lebih membutuhkan orang tua yang hadir secara emosional. Kadang pertanyaan
sederhana seperti, “Hari ini kamu bagaimana di sekolah?” jauh lebih
bermakna daripada hadiah mahal.
Ketika rumah menjadi tempat yang aman, anak
lebih mudah tumbuh dengan rasa tenang. Dari ketenangan itulah lahir kemampuan
berkonsentrasi, keberanian mencoba, dan keyakinan bahwa dirinya berharga.
Penelitian Ye et al. (2024) menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis atau subjective
well-being berkaitan erat dengan performa akademik. Anak yang merasa
bahagia, diterima, dan cukup puas dengan hidupnya cenderung lebih siap belajar dibandingkan
dengan anak yang terus hidup dalam tekanan.
Penelitian Hardani, Setiyawati, dan Susetyo
(2024) juga menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif (subjective well-being)
berperan penting dalam pencapaian akademik remaja. Kesejahteraan subjektif
siswa terbentuk melalui pola asuh orang tua yang hangat, dukungan sosial dari
lingkungan, serta spiritualitas yang memberi makna dan ketenangan batin.
Kondisi tersebut mendorong munculnya motivasi belajar, keyakinan diri (self-efficacy),
dan kemampuan mengelola emosi dengan baik. Pada akhirnya, siswa yang lebih sejahtera
secara psikologis cenderung lebih mampu belajar efektif dan meraih prestasi
akademik tinggi.
Maka dalam pendidikan, kita perlu lebih sering
bertanya bukan hanya “Berapa nilaimu?” tetapi juga “Apakah kamu
baik-baik saja?”
Ketika Anak Gagal, Apa yang Membuatnya Bangkit?
Di ruang-ruang kelas Indonesia, banyak anak
sebenarnya memiliki potensi, tetapi menyerah terlalu cepat karena merasa tidak
mampu. Di sinilah pentingnya self-efficacy—keyakinan bahwa diri mampu
belajar dan berkembang.
Basileo et al. (2024) menunjukkan bahwa
keyakinan diri akademik merupakan salah satu prediktor terkuat prestasi
belajar. Anak yang percaya pada kemampuan dirinya, akan lebih berani mencoba,
lebih tahan menghadapi kesalahan, dan lebih tekun saat menemui kesulitan.
Selain itu, pendidikan juga membutuhkan
kegigihan (grit) untuk bertahan dalam tujuan jangka panjang. Tang &
Zhu (2024) menunjukkan bahwa kegigihan berkaitan dengan kesejahteraan
psikologis dan keberhasilan akademik. Anak yang memiliki kegigihan tinggi tidak
mudah menyerah hanya karena satu nilai jelek atau satu kegagalan.
Namun, kegigihan tidak tumbuh dari bentakan
atau tekanan berlebihan. Ia tumbuh dari dukungan yang konsisten, pengalaman
berhasil sedikit demi sedikit, dan lingkungan yang memberi pesan: gagal
bukan akhir, melainkan bagian dari belajar.
Emosi Anak Juga Menentukan Masa Depannya
Sering kali masalah belajar bukan karena anak
malas atau bodoh, tetapi karena ia sedang cemas, takut, marah, atau lelah
secara batin.
Kemampuan mengelola emosi (emotion
regulation) menjadi sangat penting. Anak yang mampu menenangkan diri ketika
gugup, menerima kegagalan tanpa hancur, dan bangkit setelah kecewa akan lebih
siap menghadapi tuntutan akademik.
Rožman et al. (2025) menunjukkan bahwa
kecemasan akademik dan emosi negatif berkaitan dengan penurunan performa
belajar. Ini berarti sekolah perlu mengajarkan keterampilan hidup yang
sederhana tetapi penting: mengenali perasaan, meminta bantuan, menenangkan
diri, dan menyelesaikan konflik dengan sehat.
Karena hidup tidak hanya menuntut anak pintar,
tetapi juga matang secara emosi.
Jalan ke Depan: Pendidikan yang Lebih Utuh
Jika Indonesia ingin maju, pendidikan perlu
dibangun secara menyeluruh.
Pada level sistem, kita memerlukan pemerataan
kualitas antardaerah, penguatan guru, stabilitas kebijakan, kurikulum relevan,
serta fasilitas yang memadai.
Pada level keluarga, kita membutuhkan parenting
yang hangat, keterlibatan orangtua dalam proses belajar, dan rumah yang menjadi
tempat aman bagi anak untuk bertumbuh.
Pada level psikologis, sekolah perlu memberi
ruang bagi kesehatan mental, pengembangan daya juang, kepercayaan diri, dan
keterampilan sosial-emosional.
Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang tidak
hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyehatkan jiwa.
Penutup: Anak Tidak Hanya Butuh Sekolah, Mereka Butuh Tempat Bertumbuh
Refleksi perjalanan pendidikan Indonesia
mengajarkan bahwa anak tidak hanya membutuhkan bangku sekolah, buku, dan ujian.
Seorang anak mungkin lupa rumus yang diajarkan
hari ini. Tetapi ia akan lama mengingat bagaimana orang dewasa memperlakukannya
saat ia sedang berjuang.
Karena itu, masa depan pendidikan Indonesia
bukan hanya dibangun dengan gedung dan kurikulum, tetapi dengan hati yang
peduli, sistem yang adil, dan generasi muda yang tumbuh utuh sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Basileo, L., Otto, B., Lyons, M., Vannini, N.,
& Toth, M. (2024). The role of self-efficacy, motivation, and perceived
support of students' basic psychological needs in academic achievement. Frontiers
in Education. https://doi.org/10.3389/feduc.2024.1385442
Beatty, A., Berkhout, E., Bima, L., Pradhan,
M., & Suryadarma, D. (2021). Schooling progress, learning reversal: Indonesia’s
learning profiles between 2000 and 2014. International Journal of
Educational Development, 85. https://doi.org/10.1016/j.ijedudev.2021.102436
Dharmawan, G., & Suryadarma, D. (2022). Education
quality across Indonesia’s districts: Estimations from a policy experiment. Journal
of Southeast Asian Economies, 38, 401–425. https://doi.org/10.1355/ae38-3g
Fute, A., Oubibi, M., Sun, B., Zhou, Y.,
Bassiri, M., & Chen, G. (2024). Parenting for success: Exploring the link
between parenting styles and adolescents’ academic achievement through their
learning engagement. SAGE Open, 14. https://doi.org/10.1177/21582440241255176
Gill, C., & Berezina, E. (2020). School
performance in three South East Asian countries: Lessons in leadership,
decision-making and training. European Journal of Training and Development.
https://doi.org/10.1108/EJTD-01-2020-0014
Hardani, R., Setiyawati , D ., & Susetyo,
Y. F. S. (2024). The Role of Subjective
Well-being in Adolescent Academic Achievement: A Qualitative Study. IIUM
JOURNAL OF HUMAN SCIENCES, 6(2), 114–136.
Kawuryan, S., Sayuti, S., Aman, A., &
Dwiningrum, S. (2021). Teachers quality and educational equality achievements
in Indonesia. International Journal of Instruction. https://doi.org/10.29333/iji.2021.14245a
Mariam, T., Darmawan, D., Omonovich, K., &
Kibrio, B. (2025). A comparative literature review of educational policy
strategies in Indonesia and Singapore toward global quality standards. Jurnal
Ilmiah Global Education. https://doi.org/10.55681/jige.v6i2.3765
OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume I):
What Students Know and Can Do. Paris: OECD Publishing.
OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I):
The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.
Rahman, W., Asha, L., & F. (2024). The
analysis of the comparison of the education system in Indonesia: Perspectives
on gaps and innovation. TOFEDU: The Future of Education Journal. https://doi.org/10.61445/tofedu.v3i5.340
Rožman, M., Vrečko, I., & Tominc, P.
(2025). Psychological factors impacting academic performance among business
studies students. Education Sciences. https://doi.org/10.3390/educsci15020121
Tang, L., & Zhu, X. (2024). Academic
self-efficacy, grit, and teacher support as predictors of psychological
well-being of Chinese EFL students. Frontiers in Psychology, 14. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1332909
Ye, S., Lin, X., Jenatabadi, H., Samsudin, N., Ke, C., & Ishak, Z. (2024). Emotional intelligence impact on academic achievement and psychological well-being among university students: The mediating role of positive psychological characteristics. BMC Psychology, 12. https://doi.org/10.1186/s40359-024-01886-4

Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Untuk diskusi silakan mengirim email ke lembagakajianperak@gmail.com | IG: lembagakajian.perak | FB: lembagakajianperak