Setiap bulan Agustus, ada pemandangan yang selalu menghangatkan hati: anak-anak berlarian membawa bendera kecil, ibu-ibu sibuk menyiapkan perlombaan, para ayah memasang umbul-umbul di depan rumah, dan lagu-lagu perjuangan kembali terdengar dari pengeras suara di sudut-sudut kampung. Untuk sesaat, rumah-rumah kita seolah menjadi bagian dari sebuah perayaan besar bernama Indonesia.
Namun, di tengah kemeriahan itu, pernahkah kita
berhenti sejenak dan bertanya: apa arti kemerdekaan bagi sebuah keluarga?
Dulu, para pejuang mempertaruhkan nyawa untuk
merebut kemerdekaan. Mereka berhadapan dengan senjata, kehilangan orang-orang
yang dicintai, meninggalkan rumah, dan menghadapi ketidakpastian demi sebuah
cita-cita: Indonesia yang merdeka. Hari ini, kita tidak lagi diminta berperang
di medan laga. Tetapi bukan berarti perjuangan telah selesai. Medannya
berpindah.
Kini, perjuangan itu bisa hadir di meja makan
ketika orang tua mengajarkan anak untuk bersyukur. Di ruang belajar ketika
seorang ibu menemani anak yang berkali-kali gagal memahami pelajaran. Di
halaman rumah ketika seorang ayah membiarkan anak mencoba sendiri meskipun
hasilnya belum sempurna. Bahkan dalam konflik kecil antara orang tua dan anak,
ketika ayah atau ibu memilih menahan amarah, mendengarkan, lalu mengajak anak
berbicara.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada penghargaan. Tidak ada nama yang ditulis dalam
buku sejarah. Namun, justru dari ruang-ruang kecil seperti itulah manusia
Indonesia sedang dibentuk.
Sebab, Indonesia yang akan kita lihat dua puluh
tahun lagi sedang tumbuh di rumah-rumah kita hari ini.
Membangun manusia Indonesia dimulai sejak anak-anak
Ketika berbicara tentang masa depan Indonesia,
kita sering mendengar istilah Generasi Emas 2045. Namun, generasi emas
tidak lahir begitu saja ketika kalender menunjukkan tahun 2045. Mereka sedang
dibentuk hari ini.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa
Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada 2024 mencapai 75,02, meningkat dari
74,39 pada 2023. Harapan lama sekolah mencapai 13,21 tahun, sementara rata-rata
lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas mencapai 8,85 tahun.
Angka tersebut merupakan kabar baik. Tetapi
pembangunan manusia tidak cukup diukur dari berapa lama seseorang bersekolah.
Indonesia juga membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama,
mengendalikan diri, beradaptasi, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah
ketika menghadapi kesulitan.
Di sinilah keluarga memiliki peran yang sangat
penting.
Jauh sebelum anak mengenal guru dan ruang
kelas, ia sudah belajar tentang kehidupan dari rumah. Anak belajar tentang
kerja keras ketika melihat orang tuanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
Ia belajar tentang empati ketika melihat orang tuanya membantu orang lain. Ia
belajar tentang ketangguhan ketika melihat orang tuanya menghadapi kesulitan
tanpa menyerah.
Orang tua sebenarnya bukan hanya sedang
membesarkan anak. Mereka sedang membentuk calon warga negara.
Perjuangan membangun karakter
Kita tentu berharap anak menjadi pintar,
berprestasi, dan memiliki masa depan yang baik. Namun, Indonesia juga
membutuhkan anak yang mampu bangkit ketika gagal.
Kita ingin membesarkan anak yang ketika jatuh
tidak merasa bahwa semuanya telah berakhir, tetapi tahu bagaimana bangkit dan
mencoba kembali. Anak yang tidak malu mengakui bahwa dirinya belum bisa, karena
ia tahu bahwa kemampuan dapat dipelajari. Anak yang mampu menerima masukan,
menghargai orang lain, bekerja sama, dan belajar bertanggung jawab atas
kehidupannya.
Karakter seperti itu tidak tumbuh hanya melalui
pelajaran akademik. Ia dibentuk melalui pengalaman sehari-hari dan hubungan
anak dengan orang-orang terdekatnya.
Penelitian Kim (2022), yang merangkum 23
meta-analisis dengan 1.177 penelitian primer, menunjukkan adanya
hubungan positif antara keterlibatan orang tua dan prestasi akademik anak.
Menariknya, harapan dan aspirasi orang tua terhadap pendidikan anak termasuk
bentuk keterlibatan yang memberikan pengaruh paling kuat, sementara bantuan dalam
mengerjakan pekerjaan rumah menunjukkan hasil yang lebih beragam.
Artinya, keterlibatan orang tua bukan sekadar
duduk menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah.
Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua
hadir dalam kehidupan anak: membangun komunikasi, menunjukkan bahwa pendidikan
penting, memberikan dukungan, dan menumbuhkan keyakinan bahwa anak mampu
berkembang.
Rumah yang mendukung pendidikan tidak selalu
rumah yang penuh dengan buku dan jadwal belajar. Bisa jadi, rumah tersebut
adalah rumah tempat anak merasa aman untuk bertanya, berani melakukan
kesalahan, dan tetap merasa dicintai meskipun hasil belajarnya belum sempurna.
Mengajarkan kemerdekaan melalui kesempatan untuk mencoba
Ada paradoks dalam pengasuhan. Orang tua ingin
anak mandiri, tetapi terkadang terlalu cepat membantu. Ingin anak tangguh,
tetapi tidak tega melihat anak mengalami kesulitan.
Padahal, anak membutuhkan kesempatan untuk
mengalami proses.
Biarkan anak mencoba mengikat tali sepatunya
meskipun belum rapi. Biarkan ia membereskan mainannya. Biarkan ia menghadapi
konsekuensi sederhana dari kelalaiannya. Biarkan ia mencoba kembali setelah
gagal.
Tentu bukan berarti orang tua membiarkan anak
menghadapi semuanya sendirian. Orang tua tetap hadir sebagai pendamping:
memberikan batas, dukungan, dan rasa aman, tetapi sekaligus memberikan ruang
bagi anak untuk belajar.
Kemampuan mengelola emosi, perhatian, dorongan,
dan perilaku atau self-regulation merupakan salah satu bekal penting
bagi kehidupan. Meta-análisis Pandey dkk. (2018) terhadap 49 penelitian dengan
23.098 anak dan remaja menemukan bahwa intervensi untuk meningkatkan self-regulation
efektif meningkatkan kemampuan regulasi diri, dan perbaikan tersebut dapat
diikuti oleh berbagai hasil positif dalam aspek pendidikan, sosial, kesehatan,
dan perilaku.
Maka, ketika orang tua melatih anak menunggu
giliran, menyelesaikan tugas, mengendalikan kemarahan, atau mencoba kembali
setelah gagal, sesungguhnya mereka sedang melakukan investasi jangka panjang.
Keluarga yang kuat membutuhkan dukungan yang kuat
Namun, membicarakan keluarga tidak boleh
dilakukan seolah-olah semua orang tua memiliki kondisi yang sama.
Keluarga Indonesia menghadapi persoalan
ekonomi, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan sosial yang
berbeda-beda.
BPS mencatat bahwa pada Maret 2025 terdapat
23,85 juta penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, atau 8,47
persen dari total penduduk. Persentase kemiskinan di perdesaan bahkan mencapai
11,03 persen.
Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan
Indonesia 2023, prevalensi stunting balita nasional masih sebesar 21,5 persen.
Data tersebut mengingatkan kita bahwa membangun
generasi Indonesia bukan hanya persoalan bagaimana orang tua mendidik anak. Ada
persoalan yang lebih besar: akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan,
pendidikan, pekerjaan, perlindungan sosial, dan lingkungan yang aman.
Karena itu, keluarga yang kuat tidak bisa
dibangun hanya dengan meminta orang tua menjadi lebih sabar atau lebih pintar
mengasuh. Keluarga juga membutuhkan ekosistem yang mendukung.
Negara, sekolah, masyarakat, dunia kerja, dan berbagai lembaga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan orang tua menjalankan fungsi pengasuhan dengan lebih baik.
Ibu dan ayah sedang membangun masa depan
Dalam pembicaraan tentang pengasuhan, ibu
sering menjadi tokoh utama. Padahal, membangun generasi adalah tanggung jawab
bersama.
Ibu penting. Ayah juga penting.
Bentuk keterlibatan masing-masing keluarga
tentu berbeda. Tetapi anak membutuhkan orang dewasa yang hadir, responsif,
konsisten, dan mampu menjadi teladan.
Membesarkan anak bukan proyek satu atau dua
bulan. Karakter tidak terbentuk hanya karena satu kali dinasihati. Kemandirian
tidak muncul hanya karena orang tua berkata, “Kamu harus mandiri.”
Pengasuhan membutuhkan ketekunan.
Penelitian Teuber dkk. (2025) mengenai parental
grit memperkenalkan konsep daya juang orang tua dalam mempertahankan
ketekunan dan tujuan pengasuhan jangka panjang. Gagasan ini menarik karena
mengingatkan bahwa menjadi orang tua juga membutuhkan grit (kegigihan).
Kadang orang tua lelah. Kadang kehilangan kesabaran.
Kadang aturan yang dibuat kembali tidak konsisten.
Itu manusiawi.
Yang penting adalah kemauan untuk kembali
mencoba.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
Anak membutuhkan orang tua yang mau hadir, belajar, memperbaiki kesalahan, dan
terus mendampinginya.
Kemerdekaan bukan berarti tanpa batas
Ada satu hal yang perlu kita pahami tentang
makna “merdeka” dalam pengasuhan.
Merdeka bukan berarti anak boleh melakukan apa
saja. Merdeka juga bukan berarti tidak ada aturan.
Anak yang merdeka adalah anak yang secara
bertahap mampu memiliki suara, membuat pilihan, memahami konsekuensi,
bertanggung jawab, dan mengendalikan dirinya.
Orang tua tetap memberikan batas. Tetapi batas
diberikan untuk mendidik, bukan menakut-nakuti.
Orang tua boleh mengatakan “tidak”. Tetapi
“tidak” tidak harus disertai penghinaan.
Orang tua boleh memberikan konsekuensi. Tetapi
konsekuensi tidak harus berupa kekerasan.
Orang tua boleh memiliki harapan tinggi. Tetapi
harapan itu sebaiknya tidak membuat anak merasa bahwa cinta hanya diberikan
ketika ia berprestasi.
Dengan demikian, salah satu bentuk kemerdekaan
yang dapat kita perjuangkan di rumah adalah membebaskan anak dari rasa takut
untuk belajar, mencoba, gagal, dan mencoba kembali.
Perjuangan kecil yang menentukan masa depan
Pada akhirnya, pembangunan bangsa memang terasa
sebagai sesuatu yang besar. Kita berbicara tentang ekonomi, pendidikan,
kesehatan, teknologi, bonus demografi, dan Generasi Emas 2045.
Tetapi semua itu pada akhirnya kembali kepada
manusia.
Dan manusia dibesarkan dalam keluarga.
Anak yang kelak menjadi dokter, guru, ilmuwan,
pengusaha, pemimpin, seniman, petani, teknolog, atau profesional lainnya,
semuanya pernah menjadi anak kecil yang belajar tentang dunia dari rumahnya.
Karena itu, perjuangan orang tua tidak boleh
dianggap sebagai sesuatu yang kecil.
Ketika seorang ayah memilih mendengarkan cerita
anaknya, itu adalah perjuangan.
Ketika seorang ibu mengajarkan anak untuk
mencoba kembali setelah gagal, itu adalah perjuangan.
Ketika orang tua memilih berdialog daripada
membentak, itu adalah perjuangan.
Ketika keluarga mengajarkan kejujuran meskipun
tidak ada yang melihat, itu juga perjuangan.
Kemerdekaan Indonesia dahulu diperjuangkan oleh
para pahlawan di medan perjuangan. Kemerdekaan Indonesia hari ini perlu diisi
oleh jutaan keluarga yang setiap hari berjuang membesarkan manusia-manusia
terbaiknya.
Maka, pada Hari Kemerdekaan ini, mungkin kita
tidak hanya perlu bertanya, “Apa yang sudah diberikan negara kepada kita?”
Kita juga perlu bertanya:
“Manusia Indonesia seperti apa yang sedang kita
siapkan di rumah kita?”
Sebab Indonesia yang kuat tidak hanya dibangun
dari kebijakan yang baik, ekonomi yang tumbuh, atau teknologi yang maju.
Indonesia yang kuat dibangun dari keluarga yang
kuat, orang tua yang terus belajar, dan anak-anak yang tumbuh dengan karakter,
daya juang, empati, serta keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi kehidupan.
Dan perjuangan itu dimulai dari rumah.
Merdeka!
Doktor Ilmu Psikologi, STKIP Sinar Cendekia
Staf Ahli Divisi Kajian Lembaga Kajian PERAK
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2024). Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia Tahun 2024. BPS.
Badan Pusat Statistik. (2025). Profil
Kemiskinan di Indonesia Maret 2025. BPS.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI. (2024). Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia 2023.
Kementerian Kesehatan RI.
Kim, S. (2022). Fifty years of parental
involvement and achievement research: A second-order meta-analysis. Educational
Research Review, 37, 100463.
Pandey, A., Hale, D., Das, S., Goddings, A. M.,
Blakemore, S.-J., & Viner, R. M. (2018). Effectiveness of universal
self-regulation-based interventions in children and adolescents: A systematic
review and meta-analysis. JAMA Pediatrics, 172(6), 566–575.

Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Untuk diskusi silakan mengirim email ke lembagakajianperak@gmail.com | IG: lembagakajian.perak | FB: lembagakajianperak